Minggu, 13 November 2011

Artikel 1// “AKU JUGA BISA”


Artikel 1


“AKU JUGA BISA”
Jika Anda berpikir Anda Bisa atau Tidak Bisa
Keduanya benar..!
(Henry Ford)
Disadur dari Buku “Great Spirit Succes”
by Baban Sarbana

Sejak kecil saya selalu dikendalikan oleh sesuatu yang seharusnya saya capai. Saya lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi bersahaja/sederhana yang menyebabkan tidak dapat menjadikan materi sebagai ukuran kebahagiaan. Oleh karena itu sejak kecil, saya berusaha untuk mencari kebahagiaan tersebut dengan menjadi anak yang selalu bertaburan (bermain tanah sambil kabur-kaburan), saya adalah anak yang “luar rumahan”
Dengan spesialisasi permainan luar rumah, maka jadilah saya sampai kelas 3 itu memiliki raport dengan dominasi warna merah, alias jeblog yang membuat saya naik ke kelas 4 sebagai murid percobaan. Saya ingat betul betapa marahnya ayah saya dan mengatakan kalau saya terlalu banyak main daripada belajar. Memang waktu kecil mandi di sungai, main galasin, judi kecil-kecilan hingga mencari kotak sabun untuk dijadikan mobil-mobilan lebih mewarnai kehidupan saya, daripada mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Tanto, kakak saya yang tercinta itu-pun ikut-ikutan membantu saya untuk belajar. Dari situlah mulai timbul semangat untuk belajar. Mulailah saya melahap pelajaran, dan sebagai hasilnya, ternyata pada saat saya naik ke kelas 5, eh…ternyata saya bisa menjadi juara kelas. Dan menjadi juara kelas itu ternyata menyenangkan, banyak orang kenal dan memuji.
Maka sejak saat itu, saya selalu ingin memiliki perasaan menyenangkan seperti itu,  dan syarat  yang harus saya tempuh adalah dengan menjadi Juara Kelas. Kondisi ini pula yang akhirnya mendorong saya untuk memiliki mental “Aku BISA” . Keyakinan ini bukan perkataan yang harus saya sampaikan kepada orang lain, melainkan sebuah keyakinan yang harus saya buktikan. Kunci dari “aku bisa” adalah perubahan cara pAndang, konsentrasi, semangat dan usaha.
Banyak episode dalam hidup saya yang mengubah cara pAndang, salah satunya adalah ternyata sepanjang ayah saya hidup hingga akhir hayatnya, tidak satupun permintaan yang saya sampaikan kepada ayah saya (berhubungan dengan materi) dipenuhi begitu saja. Hal ini menyebabkan saya pada akhirnya tidak menggantungkan kepada orang lain untuk sesuatu yang harus saya dapatkan. Semuanya harus saya usahakan sendiri. Termasuk kendaraan motor yang sewaktu SMA saya beli dengan hasil keringat saya sendiri. Semuanya bermuara dari diri kita sendiri.
Kondisi sudut pAndang yang berubah, atau tepatnya bergeser ini, membuat saya bisa berkonsentrasi terhadap apa yang akan saya capai. Dan terbukti setiap apapun yang saya tuju, selama konsentrasi kita curahkan dengan amat sangat, biasanya hasilpun tidak mengecewakan.
Saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan hasil yang sesuai dengan proses yang kita lakukan. Kalaupun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, selama kita sudah mengerahkan kemampuan, maka itu  harga mahal untuk sebuah proses pencapaian. Oleh karena itu, usaha yang terus menerus dan tidak pernah kenal menyerah sangat diperlukan.
Saya ingat bahwa untuk sekedar ingin memiliki celana jeans atau baju T-Shirt sulitnya minta ampun jika ingin meminta ke orang tua. Apalagi minta motor untuk  ke sekolah. Wah, jauh panggang daripada api. Meminjam motor mas Tanto-pun (yang sebenarnya dia beli sendiri), saya pun tidak berani. Karena saya pernah dimarahinya besar-besaran, hanya karena ketika saya pakai motor yang memang tak baru itu mogok dan saya dorong pulang.
Saya pikir, jika saya tanggapi secara negatif, maka akan terjadi keributan, oleh karena itu, saya jadikan saja momentum itu untuk menumbuhkan semangat pada diri untuk bisa memiliki motor sendiri, sehingga tidak akan terganggu oleh orang lain.
Dan ternyata pada saat saya kelas 2 SMA, akhirnya saya bisa memiliki motor sendiri, saya puas dengan diri saya, karena itu dihasilkan tanpa meminta pada orang tua, melainkan dari hasil keringat sendiri. Jadi semangat dan usaha ini  mebuat saya sudah berkeringat sejak SMA.
Konsentrasi sangat dibutuhkan untuk bertahan dengan tujuan yang ingin kita wujudkan. Ketika kita konsentrasi kepada sebuah tujuan, maka segala hal di sekeliling kita bisa dimanfaatkan untuk pencapaian tujuan tersebut.
Saya termasuk orang yang gigih dalam mewujudkan tujuan, tentu saja  dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa saya memang bisa mencapainya. Tidak hanya dengan modal keyakinan saja, akan tetapi perangkat-perangkat untuk mencapai tujuan itu pun harus saya persiapkan.
Pada masa SMA pula saya merasakan buah dari kerja keras saya dalam belajar, yaitu menjadi Pelajar Teladan se-Propinsi Sumatera Selatan. Bagi saya, itu sebuah pencapaian yang luar biasa, tetapi juga menunjukkan bahwa dengan usaha dan kerja keras, kita bisa mewujudkan apapun yang ingin kita capai. Bayangkan si kolektor angka merah di SD bisa menjadi wakil Sumatera Selatan ke Pemilihan Pelajar Teladan Nasional tahun 1980 di Jakarta.
Dalam konteks program TV pun, kadang-kadang kita berbenturan dengan kepentingan pihak stasiun. Tentu saja keyakinan kita terhadap bagusnya program tidak cukup untuk membuat program itu lantas ditayangkan. Ada pertimbangan dari pihak stasiun TV yang memberikan penilaian.
Keyakinan bahwa perogram itu bagus, membuat saya harus pAndai-pAndai dalam menjual program-program tersebut kepada pihak-pihak yang memang sepakat, bahwa program tersebut bagus dan berhak untuk ditampilkan. Kalau saya berhenti karena sebuah penilaian, tentu program-program TV yang saya tawarkan tidak pernah hadir di hadapan pemirsa. Ditolak oleh stasiun A, bukan berarti akan ditolak oleh stasiun B. DipAndang sebelah mata oleh C, malah dipuji-puji oleh D.Itulah sejarah dibalik program  Siapa Berani yang sempat ditolak-tolak di beberapa stasiun, eh malah disambut hangat oleh Indosiar. Saya juga punya program TV yang saya rancang 3 tahun lalu dan tidak laku-laku, eh malah saat saya tawarkan 3 tahun berikutnya malah menjadi rebutan dua stasiun televisi. Programnya adalah kuis infotainment tentang Gosip atau Fakta Selebriti.

Oleh karena itu, kekuatan spirit bahwa “Aku Bisa” memang menjadi pemicu bagi saya untuk selalu berusaha semaksimal mungkin mewujudkan apa yang saya inginkan.
Spirit bahwa “Aku Bisa” membawa saya kepada sebuah pencapaian itu, apakah sukses atau gagal, bagi saya adalah umpan balik dari proses yang saya lakukan. Keberhasilan berarti karya saya dihargai, kegagalan berarti karya saya belum memenuhi harapan banyak orang.
Bagi saya, kesuksesan dan kegagalan tidak boleh mengendalikan. Justru menjadikannya sebagai sarana perbaikan itu yang lebih penting. Mengembalikannya kepada diri sendiri sebagai instropeksi rasanya lebih nyaman ketimbang harus mencari penyebab di luar diri kita.
Sangat mungkin bagi setiap orang untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, sangat mungkin pula bagi setiap orang  tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Disinilah dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima apapun yang kita dapatkan,. Selama kita sudah mengerahkan semua kemampuan yang diawali dengan pemikiran “Aku Bisa!”

(dari berbagai sumber)
Posting by : Poloria Sitorus
Minggu, 13 Nov 2011/22.28Wib

1 komentar: