Jumat, 12 Oktober 2012

Artikel Lingkungan


(analisa/Poloria Sitorus) Terumbu karang yang telah rusak, terdampar di pesisir pantai Sialangbuah.
Oleh: Poloria Sitorus.  
PENDAHULUAN: 
Manusia merupakan makhluk penghuni bumi yang sangat tergantung pada alam dalam pemenuhan segala kebutuhan hidupnya. Sehingga manusia sangat erat hubungannya dengan lingkungannya. Dalam proses kehidupan tersebut manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga antara manusia dengan lingkungannya terjadi respon/reaksi, baik berupa respon yang positif untuk mendukung kehidupan manusia itu sendiri, maupun respon negatif yang dapat berakibat buruk terhadap kehidupan manusia.
Jika manusia memperlakukan lingkungannya dengan baik, maka seyoginya lingkungan akan memberi respon yang baik juga, namun manusia sering kali memperlakukan lingkungan dengan tidak baik dan tidak sewajarnya, hal ini didukung oleh populasi manusia yang sangat pesat dan semakin kurangnya kesadaran akan pelestarian alam dan lingkungan hidupnya.

Disebabkan adanya interaksi yang tidak baik antara manusia dengan lingkungan, akan mengakibatkan terjadinya ketidak-seimbangan ekologi seperti kerusakan-kerusakan tanah sebagai akibat penggunaan lahan, kebakaran hutan dan kebanjiran, serta pencemaran-pencemaran lingkungan, dan sebagainya. Hal ini tidak terlepas dengan segala aktivitas dan populasi manusia yang tumbuh sangat pesat.

Rabu, 05 September 2012

Artikel Lingkungan

            Pengaruh Iklim Terhadap Tanah & Pertanian
                            (Oleh : Poloria Sitorus)

 
Pendahuluan :
Terlebih dahulu, penulis ingin memaparkan dan menjelaskan beberapa pengertian yang perlu kita pahami secara mendasar karena akan sangat membantu proses pemahaman kita untuk selanjutnya mengkaji bagaimana sesungguhnya “Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman”. Cuaca adalah keadaan suhu rata-rata udara pada suatu daerah/wilayah yang relatif sempit dan dapat berubah-ubah dalam jangka waktu yang sangat singkat, antara 1 hingga 24 jam. Sedangkan defenisi Iklim adalah kondisi atau keadaan rata-rata cuaca dalam cakupan wilayah yang relatif luas dan perubahannya dalam jangka waktu yang lama, yaitu berkisar antara 11 tahun hingga 30 tahun.
Klimatologi dan Meteorologi sangat erat hubungannya, bahkan kadang-kadang dianggap sama, dimana Meteorologi atau Cuaca menekankan pada proses-proses fisika yang terjadi di atmosfer, seperti : hujan, radiasi matahari, suhu, kelembaban udara, tekanan udara, angin, dan keawanan, sedangkan sifat Iklim dinyatakan sebagai keadaan rata-rata Cuaca dalam jangka waktu yang lama.
Adanya perbedaan Iklim di suatu daerah yang satu dengan daerah yang lainnya itu disebabkan oleh adanya faktor-faktor pengendali Iklim, yang terdiri dari ; ketinggian tempat, garis lintang, perbedaan tekanan, arus-arus laut, dan topografi. Pengaruh antara faktor-faktor pengendali Iklim tersebut akan diperlihatkan oleh unsur-unsur Iklim dan sebaliknya unsur-unsur Iklim itu juga akan mempengaruhi faktor-faktor pengendali Iklim. Jika hubungan timbal balik ini masih berada pada batasan yang sesuai dengan masing-masing polanya, maka akan cenderung stabil. Namun ada kemungkinan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang kerapkali menimbulkan masalah dan bencana, baik bagi tumbuhan, hewan dan manusia. Seperti halnya penyimpangan yang mengakibatkan terjadinya banjir oleh curah hujan yang terus-menerus, musim kemarau yang berkepanjangan dan perubahan suhu yang lebih panas.
Maka untuk itu, dalam artikel ini penulis mengajak kita semua untuk meyadari betapa pentingnya kita mempelajari dan memahami Ilmu Iklim dengan baik, karena sangat erat hubungannya dengan mahluk hidup dan proses kehidupan di muka bumi ini.

Minggu, 20 Mei 2012

Jangan Larang Aku Menulis


(Oleh : Poloria Sitorus)

            “Tidurlah, sudah terlalu larut!” kata suaminya.
Jarum jam sudah tiba pada angka 00.11Wib. Perempuan itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sedangkan si suami masih di ruang depan, menonton TV, tayangan film Barat favoritnya.
            Malam ini, perempuan itu memang tampak seksi, dengan baju tidur berwarna merah muda dan tipis (agak transparan). Di dalam kamar, si istri lalu mengambil sebuah buku dan  memilih satu judul esay yang ‘sangat ingin’ dibacanya.
            Tak lama si suami datang lagi, mengetuk lalu membuka pintu meski  tanpa persetuajuan si istri. Dia menawarkan sebuah senyum “penuh arti” pada istrinya.
            “Sayangku…tidurlah! Sudah terlalu larut!” ucapnya lalu menutup pintu lagi.
            “Ya ..” si istri menjawab lembut, tak ingin berdebat lama. Si istri mengambil sebuah pena dan buku tulis. Lalu dia menulis. “Jangan Larang Aku Menulis.” Itu saja yang dia tulisi. Dan dia terus menulis, hingga kamar itu dipenuhi huruf-huruf ; (A-N-J-G-L-U-K-E-M-N-I-S-R). Huruf-huruf itu tumpah di lantai kamar, mengalir ke bawah kasur, ke bawah meja belajar, ke bawah kursi, dan ke bawah rak-rak buku, juga  ke balik lemari. Mencapai langit-langit kamar. Mendobrak ke luar dari celah-celah pintu.
            “Dreekk…dreekkk…dreeekkk…”
            “Apa itu?” Tanya si suami dalam hati.
            Belum sempat berpikir lebih jauh, timbunan huruf-huruf itu meluap tumpah memburu si suami.


(@hak cipta karya)
Oleh : Poloria Sitorus
KSI-Medan, Minggu 20 Mei 2012/00.11Wib/





Minggu, 11 Maret 2012

Getaran Pena Venny Mandasari


Getaran Pena Venny Mandasari
(Poloria Sitorus)

            “Oh Tuhan, Hilangkanlah Penyakit Dystonia-ku…”
            Begitulah kisah Venny Mandasari yang saya baca pada Rubrik Kisah Nyata “Oh My God” Majalah Say yang dikisahkan oleh Titien Say.
            Venny bergabung dengan KSI-Medan sejak beberapa tahun lalu, sekitar awal Mei 2010. Itulah awal pertama Venny datang dalam diskusi rutin KSI-Medan, di bawah rindang pohon asam, Taman Budaya Sumatera Utara. KSI-Medan adalah sebuah komunitas sastra yang melakukan diskusi rutin seputar sastra, seni dan budaya setiap Sabtu sore pkl.15.00Wib s/d pkl.18.00Wib yang dipimpin oleh seorang sastrawan dan seniman kota Medan; Idris Pasaribu.
            Pertama sekali bertemu Venny, jujur saya dan teman-teman anggota KSI-Medan lainnya sedikit merasa tidak biasa. Merasa aneh dan heran, “Mengapa Mbak Venny…tubuhnya bergetar terus..?” tanya itu dalam hati kami masing-masing, termasuk saya. Tapi saya sendiri, bersih dari jiwa, tersenyum memandangnya. Saya merasa terharu melihat keadaan fisiknya yang seperti itu. Sangat terharu sampai tersembunyikan tangis dalam hati. Namun di sisi lain, jauh terselubung di kedalaman qalbu, saya sungguh mengaguminya. Sungguh-sungguh kagum padanya. Sebab dengan segala keterbatasan fisiknya yang demikian, Venny sanggup menjadi seorang penulis yang karya-karyanya sudah banyak berkiprah meramaikan khasanah sastra, baik di Koran Lokal maupun Nasional, dan banyak juga karya-karyanya yang sudah berhasil menembus Majalah-Majalah Nasional seperti Majalah STORY, Majalah GADIS, Majalah SAY, dan lain-lain.

Rabu, 04 Januari 2012

"Bebaskah" Pers Kita ?

pustaka73.blogspot.com
"Bebaskah" Pers Kita ?  
      Oleh : Juhendri Chaniago



      Pers Indonesia paling bebas di Asia, benarkah? Ya, setidaknya demikianlah 
 penilaian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai pers kita baru-baru 
ini (lihat: Analisa, 7/01/2009). 

      Penilaian ini tentu sangat membanggakan, khususnya bagi para insan pers 
kita yang telah bekerja keras memburu informasi demi menegakkan kebenaran dan 
keadilan. Bahkan meski dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. 

      Tapi apakah pernyataan Presiden SBY tersebut sebagai pujian, atau malah 
kritikan bagi dunia pers kita menjelang Hari Pers Nasional nanti? Nah, 
barangkali ini bisa diartikan dengan sedikit tafsir. Ibarat kata Albert Camus: 
pers yang tidak bebas pasti buruk. Adapun pers bebas; bisa baik, bisa buruk. 

      Jadi, kalau kata "paling bebas" yang dimaksud adalah kebebasan untuk 
mempunyai dan menyatakan pendapat melalui pers, tentu ini suatu surprise bagi 
kalangan pers kita. Dan andai kata-kata tersebut sebagai motivasi terhadap 
dunia pers kita, maka teriaklah: "Hidup pers Indonesia!" Lantas, buruknya? 

      Maaf, kalau boleh kita simak sedikit perjalanan pers kita di era 
reformasi, ternyata selalu muncul wacana baru tentang kebebasan pers. Malah ada 
keluhan bahwa kebebasan pers kita sudah "kebablasan". 

      Pasalnya, tak sedikit oknum wartawan kita yang salah menafsirkan 
kebebasan pers, baik terhadap UU Pers maupun Kode Etik Wartawan Indonesia 
(KEWI) itu sendiri. Pendek kata, masih banyak wartawan yang justru melanggar UU 
Pers dan KEWI tersebut. Misalnya kasus "wartawan bodrex", "wartawan amplop", 
atau wartawan yang terlibat dalam kasus perjudian di Riau belakangan ini. 

      Nah, menyimak kenyataan ini, mampukah kebebasan pers itu menjadi jembatan 
bagi terciptanya masyarakat yang demokratis?

      ***

      Dalam The Third Wave-nya, Alvin Toffler meramalkan bahwa gelombang 
informasi akan semakin besar seiring dengan makin canggihnya teknologi 
komunikasi, yang lantas menciptakan masyarakat yang haus 

Senin, 28 November 2011

Tentang Kemampuan Menulis

Tentang Kemampuan Menulis

oleh Sang Rembulan pada 16 September 2011 jam 2:50
A.Kemampuan Menulis Sebagai Kemampuan Komunikasi

            Kemampuan komunikasi (communicative competence), pada hakikatnya dimiliki oleh setiap orang yang didapatkan melalui transmisi daerah yaitu melalui suatu proses belajar dan bukan suatu warisan (Moulton dalam Hill, 1973). Kemampuan komunikasi dapat dijabarkan berdasarkan kemampuan berbahasa, seperti ;
# Kemampuan menyimak/mendengar
# Kemampuan berbicara
# Kemampuan membaca
# Kemampuan menulis
Keempat kemampuan itu merupakan satu kesatuan utk mendukung kemampuan komunikasi yg baik. Sejatinya proses ini merupakan kronologis, sejak kecil kita belajar menyimak, lalu belajar berbicara, kemudian belajar membaca dan selanjutnya kita mulai menulis. Hal ini menunjukkan tingkat kesukaran berbagai proses tsb. Namun masing-masing proses tsb saling berhubungan.

Judul Buku : Meningkatkan Kemampuan Menulis
Karya : Kaswan Darnadi
Penerbit : ANDI Yogyakarta

Note : Catatan Ringkas dari salah satu bacaan favorit/Pusda//
beberapa hari yg lalu.

ttd : Ria Sitorus
KSI-Medan

Agama, Kepercayaan & Keyakinan


Agama, Kepercayaan & Keyakinan
Oleh : Poloria Sitorus
            Semua masyarakat mempunyai nilai sistem kepercayaan, pemahaman, harapan dalam mempersatukan anggota mereka dari kelompok budaya yang berbeda-beda. Nilai yang dimaksud ialah suatu agama yang melibatkan iman atau keyakinan seseorang terhadap Illahi (Allah) yang suci. Agama mempengaruhi semua segi suatu budaya. Kepercayaan adalah suatu unsur subsistem yang ideologis, yang menyangkut subsistem dalam kemasyarakatan. Selain itu ada juga sistem yang tidak beragama tetapi lebih menekankan kepada sistem kepercayaan tradisional yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai tradisional.
            Menurut mereka agama adalah tentang hubungan individu pada dunia dengan alam baka, yang selanjutnya masing-masing membawa suatu konsepsi yang berbeda menyangkut nilai, arti atau makna dari hidup itu sendiri, yang berisikan tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup ini untuk pencapaian keselamatan jiwa atau rohaniah. Kepercayaan ini terjalin dengan tradisi suatu budaya.
            Di banyak negara-negara ada yang menganut agama dalam sistem politis, sebagai contoh agama Budha, negara-negara yang menganut agama Budha adalah Myanmar, Laos, Thailand, selain itu negara Pakistan dan Iran menganut agama Islam. Disamping itu negara Indonesia juga mayoritas menganut agama Islam, selain itu juga memiliki lima agama yang diakui dan sistem kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam ideology pancasila (dalam hal ini; sebelum diakuinya agama Khong Hu Chu).
v  Klassifikasi dan Distribusi Agama
Agama merupakan bagian dari perubahan kebudayaan-kebudayaan tersebut melalui proses-proses dan keunikan tersendiri. Terbentuknya hubungan dan asal mula antara keyakinan dan agama seperti agama Kristen dan agama Islam dimana dapat dikemukakannya keturunan dari golongan agama Yahudi dan bukan seperti yang kita ketahui digolongkan berdasarkan keyakinan seperti mereka didalam mempelajari bahasa.

Ada perbedaan kepercayaan monotheisme dan polytheisme. Monotheisme mempercai dan meyakini adanya satu Tuhan dan kepercayaan polytheisme mempercayai adanya banyak Tuhan. Ahli bumi mengkategorikan bahwa agama sebagai universal, ethnic atau adat istiadat (tradisional).
Agama Kristen, Islam, dan Budha merupakan agama mayoritas yang ada di dunia dimana tuntutan kepercayaan dapat dipakai semua umat manusia dan mencoba untuk membawa kepercayaan tersebut ke semua negeri walaupun itu merupakan tugas dari mualim dan perubahan itu sendiri.
Keyakinan tiap ethnic sangat terikat kuat oleh identifikasi golongan kebudayaan, itu biasanya menjadi bagian anggota dari keyakinan yang lahir di tiap ethnic. Keyakinan tersebut tidak biasanya memeluk agama baru dan mereka terbentuk dari anggota komunitas yang khusus terdekat berdasarkan fakta, keterangan golongan ethnik dan keyakinan setiap ethnic, sebagai contoh : agama Yahudi, agama Hindu, agama Shinto – Jepang, merupakan suatu dasar yang utuh dalamn seluk beluk kebudayaannya.
Mengenai suku (tradisi), keyakinan itu terbentuk dari ethnis yang dibedakan dengan bentuk ukuran yang sekecilnya. Mereka identik unik, dimana golongan kebudayaan yang terbatas yang tidak sepenuhnya terpikat ke dalam masyarakat modern.
v  Prinsip Agama
Setiap kepercayaan-kepercayaan atau agama besar mempunyai perbauran kebudayaan dan penyampaian yang berbeda. Setiap agama mengalami perubahan berupa inovasi dan difusi. Setiap perbedaan tempat memiliki perbedaan kepercayaan dan di setiap daerah yang berdekatan sering mengalami terjadinya percampuran kepercayaan masing-masing.
v  Judaism (Agama Jehuda)
Agama Jehuda adalah kepercayaan terhadap Allah yang tunggal, sama seperti Kristen dan Islam. Tidak seperti agama lain, agama Jehuda lebih dikenal sebagai kelompok etnis kepercayaan yang mempunyai hukum-hukum agama yang keras. Agama Jehuda yang lebih dikenal dengan atheis kepercayaan merupakan pembauran antara kepercayaan Israel kuno dengan keyakinan/kepecayaan Jahudi. Kemengan perang memberikan kesempatan bagi orang Jahudi untuk menyebarluaskan kepercayaan mereka tersebut. Antara abad ke-13 hingga abad ke-14 banyak pengikut agama Jehuda di Polandia dan Rusia. Orang Jahudi merupakan element penting dari para imigran Inggris dan penduduk-penduduk barat.
v  Cristiany (Kristen)
Agama Kristen mempunyai azas dari ajaran Yesus, yang mengikrarkan hadirnya perjanjian baru dimana para pengikut-NYA percaya akan kehadiran/kedatangan Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Perjanjian baru ini mengubah pandangan penganut agama Jehuda dan janji keselamatan bagi kehidupan umat manusia yang tidak hanya bagi orang-orang terpilih.
Misi orang Kristen adalah mengabarkan/menginjilkan akan kehadiran Yesus dan menjanjikan keselamatan dan harapan. Agama ini dengan cepat menyebar pada penduduk-penduduk kelas bawah di sebelah barat dan timur kerajaan Roma dan menuju kota utama Roma. Pada tahun 313 SM, Kaisar Roma “Constantine” menyatakan bahwa Kristen sebagai agama kerajaan, kemudian agama ini menyebar ke seluruh Eropa.
Selanjutnya repormasi protestan terjadi pada abad ke-15 dan abad ke-16 dimana gereja-gereja bergerak ke barat meninggalkan kekuasaan Khatolik Roma di Eropa Selatan, sedangkan di sebelah Utara dan Barat Eropa mulai mendominasi kehidupan gereja. Perpecahan ini menimbulkan persebaran agama Kristen Khatolik ke arah Spayol dan Portugal yang berkoloni di Amerika Latin dan membawa serta bahasa mereka dan menyebarkan Khatolik Roma disana. Mereka juga menyebarkan Khatolik Roma ke Philipina, India dan Afrika, sedangkan Protestan menyebarkan agamanya bergerak ke Amerika Tengah, Australia, New Zeland dan Afrika Selatan.
v  Islam
Agama Islam juga mempunyai kesamaan dengan agama Jehuda, dimana agama ini mempercayai Allah yang tunggal (kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Seperti agama lain Islam mempercayai bahwa Adam adalah manusia pertama, Abraham adalah salah satu keturunannya dan Mohhammad dipercayai sebagai Nabi (Utusan Allah) yang menjalani dan melengkapi pekerjaan para Nabi sebelumnya, termasuk Nabi Musa, Nabi Daud dan nabi-nabi lainnya. Qur’an yang merupakan kalimat-kalimat Allah diberikan kepada Mohhammad yang tidak hanya mengandung aturan-aturan sholat dan agama, tetapi juga instruksi terhadap hubungan sesama manusia.

v  Hindu
Hindu adalah agama yang tertua di dunia. Hindu merupakan ethnic agama, sebuah jaringan keagamaan filosofi, sosial ekonomi dan terdiri dari perkumpulan-perkumpulan seni yang bersifat budaya rakyat India. Diperkirakan 1 milliar pengikutnya terutama di Asia dan yang terbesar di India. Sekitar 80 % penduduk India beragama Hindu. Daerah asalnya berada di lembah sungai Indus, hingga tersebar sampai ke arah timur sungai Gangga dan ke arah Selatan, berbatasan dengan wilayah yang bercampur dengan agama lain. Agama Hindu juga masuk ke wilayah Thailand, Laos, Vietnam, Myanmar, Sri Langka, serta Kamboja  hingga ke Indonesia yaitu di Bali.
            Agama Hindu kaya dengan ritual dan upacara festival. Proses ritual bersamaan dengan perayaan sastra. Hasil karya agama Hindu yaitu candi-candi yang ditemukan dari bekas peninggalan sejarah yang menggambarkan kedamaian dan keabadian Tuhan. Candi-candi tersebut merupakan tempat-tempat yang suci karena digunakan sebagai tempat untuk sembahyang.
v  Budha
            Budha merupakan agama yang mengajarkan Pilosofi moral yang menawarkan sebuah penjelasan pada setan dan kesengsaraan manusia dan berpandangan ke jalan yang terang dan terbatas dari kebohongan pada pengertian empat (4) kebenaran kebangsawanan yang berisikan eksistensi yang melibatkan penderitaan. Penderitaan yang melahirkan hasrat penderitaan. Ketika itu ingin dihilangkan, maka melalui pendidikan pada perbaikan kepercayaan dan pembenaran berpikir. Budha memerintahkan pengikutnya untuk membawa pesan sebagai missioner pada sebuah doktrin untuk membuka semua kesucian, dimana pesan ini bertujuan untuk pencerahan kepada umat manusia.
            Budha masuk ke Asia pada abad ke-3 yang dibawa oleh pendeta-pendeta dan saudagar. Ada tiga (3) jenis bagunan dan monument agama Budha, yaitu : *Stupa yang merupakan sebuah tempat penyembahan, **Kuil/Pagoda adalah sebuah tempat penyimpanan patung, dan ***Tugu yaitu beberapa bangunan yang terdiri dari beberapa tugu dan berukuran kota kecil.


v  Etnis (Suku Bangsa)
            Membahas tentang keanekaragaman budaya tidak lepas dari kata suka bangsa, yang berasal dari kata “ethos” yang artinya “orang-orang” atau “bangsa”. Istilah ini umumya digunakan mengacu pada jalur keluarga orang-orang tertentu yang mempunyai suatu karakteristik. Tidak ada ciri tunggal yang menandakan satu suku bangsa tertentu. Pengenalan masyarakat akan suku, mungkin didasarkan pada bahasa, agama, asal nasional dan kebiasaan-kebiasaan yang khas.
            Secara normal, acuan ke masyarakat ke-suku-an adalah pengenalan status minoritas mereka dalam suatu daerah atau negara yang dikuasai suatu kelompok kultur mayoritas. Kita tidak mengidentifikasi orang Korea tinggal di negara Korea sebagai suatu kelompok ke-suku-an karena mereka memiliki kultur yang dominan di dalam daratan mereka sendiri. Orang Korea yang tinggal di Jepang, bagaimanapun itu membuat suatu kelompok dipencilkan di dalam negeri asing itu.
            Oleh sebab itu, maka suku bangsa adalah suatu bukti areal keanekaragaman budaya dan suatu peringatan bahwa daerah kultur jarang homogen di dalam karakteristik oleh semua penghuni.
            Kesimpulannya :
Bahwa dari hasil pembahasan di atas, maka dapat kita mengerti bahwa agama itu merupakan suatu unsur yang sangat berpengaruh terhadap perubahan suatu pola kebudayaan dalam masyarakat tertentu karena agama itu sendiri membawa ajaran-ajaran bersifat mengajak suatu perubahan terhadap pola pikir umat manusia dalam kehidupannya. Tentunya ajaran yang dimaksud di sini, adalah; ajaran-ajaran yang baik atau yang bersifat positif untuk memberikan penerangan terhadap umat manusia dalam memahami hubungannya dengan Sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa), dengan hubungannya dengan manusia lain dan hubungannya dengan alam sebagai lingkungan hidupnya.

(dengan membaca berbagai sumber)
Penulis adalah :
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Medan
Medan state, on Tuesday-February 23th 2010 (02.17am)